iLearning+..???

Apa yang terlintas dalam benak kalian dengan sepenggal kata itu.

Apakah kalian pernah mendengarnya?

Apakah kalian tidak asing lagi dengan istilah itu?

Atau masih ada begitu banyak lagi tanda tanya-tanda lain yang berputar perihal itu?

Okei..

We start here..

Demi meningkatkan Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APK-PT), pemerintah melakukan terobosan baru dengan diperbolehkannya perguruan tinggi selain Universitas Terbuka – dengan kriteria dan persyaratan tertentu – untuk menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan tersebut tertuang dalam permendikbud24thn2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh pada Perguruan Tinggi.

Keadaan ini dikarenakan sebuah fakta bahwa pendidikan tinggi saat ini terus mengalami perubahan yang dipicu oleh kian berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi (information and communication technology). Keadaan ini menuntut institusi pendidikan tinggi untuk bersikap realistis dan adaptif terhadap beragam perubahan itu. Dengan kata lain, institusi pendidikan tinggi harus tetap menjadi lembaga yang mampu menyediakan layanan pendidikan untuk masyarakat. Berkembangnya produk teknologi komunikasi dan informasi dalam bentuk jaringan yang online menuntut adanya penyesuaian-penyesuaian dalam berbagai komponen sistem perguruan tinggi. Masuknya teknologi online ke pendidikan tinggi dipandang cukup positif  apalagi bila dikaitkan dengan peningkatan mutu dan daya saing institusi pendidikan tinggi maupun outputnya. Menyikapi hal ini, menciptakan kemasan materi pembelajaran yang unggul dan kompetitif mutlak diperlukan.

Kini kita menemukan istilah baru untuk perkembangan pendidikan di dunia teknologi, yang kita namakan iLearning+. Kecanggihan sebuah alat teknologi tidak akan berfungsi bila alat tersebut hanya dijadikan alat mati dan bukan sebagai media dalam merubah metode pendidikan. Istilah e-learning yang muncul memang sudah membuat maju dunia pendidikan di Indonesia, begitu juga untuk perguruan tinggi. Namun, kita harus terus menerus mengembangkannya mengikuti alur perkembangan teknologi yang ada. iLearning+ dipilih oleh Perguruan Tinggi Raharja sebagai metode baru dalam kegiatan belajar mengajar.

iLearning+ dirancang untuk dunia pendidikan terkini, yang mana kesibukan seseorang bukan menjadi penghalang untuk tidak lagi menuntut ilmu. iLearning+ ini merupakan jawaban bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan dengan waktu terbatas. Tidak heran, program ini mengusung tema Cara Kuliah Fleksibel Menghasilkan Lulusan Berkualitas. iLearning+ juga diyakini akan menjadi konsentrasi unggulan yang mengedepankan teknologi.

Sebagai pelaku dibidang akademika, tentunya kita sangat yakin bahwa sistem pendidikan online akan menjadi trendsetter dalam dunia pendidikan dimasa mendatang. Dan perguruan tinggi akan berada dalam garis terdepan untuk menjawab permasalahan atau dilema yang terjadi selama ini. Sistem pendidikan online menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi tidak ingin meninggalkan pekerjaan atau aktivitas lainnya. Fenomena ini yang ditangkap oleh Perguruan Tinggi Raharja. Dimana permasalahannya yang muncul kemudian dalam tahapan implementasi di lingkungan Perguruan Tinggi Raharja adalah rendahnya partisipasi dosen maupun mahasiswa yang memanfaatkan layanan ini.

Menurut Permendikbud tersebut, PJJ adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajaraannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi, dan media lain. Fungsinya adalah sebagai bentuk pendidikan bagi peserta didik yang tidak dapat mengikuti pendidikan tatap muka tanpa mengurangi kualitas pendidikan. PJJ bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan akses terhadap pendidikan yang bermutu dan relevan sesuai kebutuhan.

Dengan PJJ, pendidikan memang bisa tidak terbatas ruang dan waktu. Idealnya, siapa saja bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Namun dalam prakteknya, PJJ tidak hanya sekedar mengirimkan bahan belajar ke alamat peserta didik, atau sekedar berkomunikasi melalui teknologi informasi dan komunikasi. Aspek pedagogik, atau pencapaian kemampuan kognitif, afektif, atau psikomotorik tidak mudah difasilitasi dengan PJJ yang diselenggarakan secara asal-asalan, atau sekedar mengikuti trend. Untuk itulah pemerintah berupaya membuat regulasi ketat, walau di sisi lain, memberikan kemudahan bagi Perguruan Tinggi yang dianggap mampu.

Menurut Permendikbud nomor 24 tahun 2012, PJJ dapat diselenggarakan pada lingkup program studi atau mata kuliah. PJJ dalam program studi diselenggarakan dalam proses pembelajaran pada 50% atau lebih mata kuliah dalam satu program studi, sedangkan PJJ dalam mata kuliah diselenggarakan di semua proses pembelajaran dalam satu mata kuliah. Izin penyelenggaraan PJJ untuk program studi dapat diberikan apabila:

  1. Mempunyai izin penyelenggaraan program studi secara tatap muka dalam bidang studi yang sama
  2. Telah diakreditasi oleh lembaga akreditasi yang diakui pemerintah dengan nilai paling rendah B, dan
  3. Jumlah mata kuliah yang diselenggarakan secara PJJ berjumlah lebih atau sama dengan 50% dari jumlah semua mata kuliah dalam satu program studi yang dilaksanakan dengan tatap muka secara penuh

Jadi, tidak setiap PT bisa menyelenggarakan PJJ. Pemerintah menetapkan bahwa program pendidikan jarak jauh yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi harus memenuhi persyaratan yang relatif ketat, mulai dari ketersediaan sumber daya manusia dan sumber daya teknologi, sampai ijin penyelenggaraan program studi secara tatap muka dalam bidang studi yang sama yang telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN – PT) dengan minimal nilai B, serta Bekerjasama dengan lembaga, PT, institusi, dunia industri, atau pihak lain untuk bidang akademik atau non akademik di dalam dan luar negeri untuk memfasilitasi peningkatan kualitas pendidikan.

Menurut Dirjen DIKTI, yang tertuang dalam “Panduan Penyelenggaraan Model Pembelajaran Jarak Jauh di Perguruan Tinggi“, untuk menjamin kualitas, secara intrinsik, penyelenggaraan program PJJ diharapkan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Didasarkan pada kegiatan perencanaan yang sistemik berkenaan dengan kurikulum, materi ajar, proses pembelajaran, instrumen dan sistem evaluasi,
  2. Berbasis TIK,
  3. Memanfaatkan sistem penyampaian pembelajaran yang inovatif dan kreatif,
  4. Menyelenggarakan proses pembelajaran interaktif berbasis TIK dengan memungkinkan kesempatan tatap muka,
  5. Mengembangkan dan membina tingkat kemandirian dan softskills peserta didik,
  6. Menyediakan layanan pendukung yang berkualitas (administrasi akademik, bantuan belajar peserta didik, unit sumber belajar untuk layanan administrasi dan peserta didik, akses dan infrastruktur).

Dari sekian banyak wacana yang beredar perihal PJJ ini saya dapat menyimpulkan bahwa:

Jelas sudah bahwa penyelenggaraan PJJ tidaklah mudah. Penyelenggaraan program PJJ pun harus sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) – seperti dijelaskan dalam pedoman dari Ditjen DIKTI, yaitu mengutamakan hal berikut:

  1. Penggunaan berbagai media komunikasi, antara lain media cetak, elektronik, dan bentukbentuk media komunikasi lain yang dimungkinkan oleh perkembangan teknologi untuk menggantikan pembelajaran tatap muka dengan interaksi pembelajaran berbasis TIK, meskipun tetap memungkinkan adanya pembelajaran tatap muka secara terbatas;
  2. Penggunaan sistem penyampaian pembelajaran yang peserta didik dengan pendidiknya terpisah;
  3. Penggunaan metode pembelajaran interaktif berdasarkan konsep belajar mandiri, terstruktur, dan terbimbing yang menggunakan berbagai sumber belajar dan dengan dukungan bantuan belajar serta fasilitas pembelajaran;
  4. Menjadikan media pembelajaran sebagai sumber belajar yang lebih dominan daripada pendidik.

Pendukung perkembangan PJJ di Indonesia

Bentuk Negara Indonesia yang berbentuk kepulauan memang membutuhkan metode PJJ untuk pemerataan pendidikan ke seluruh wilayah nusantara. Banyaknya masyarakat Indonesia yang menginginkan pendidikan lebih lanjut juga merupakan  salah satu faktor pendukung, khususnya yang berada di pelosok daerah. Ini merupakan faktor penting untuk mengembangkan PJJ di Indonesia.

Selain itu, media teknologi untuk melakukan PJJ saat ini sudah berkembang semakin pesat, sehingga bisa memudahkan proses PJJ berlangsung.

Kendala perkembangan PJJ di Indonesia

Masih kurangnya pengetahuan tentang TIK bagi sebagian masyarakat, baik itu dari pengajar maupun peserta didik.  Bagi sebagian orang, khususnya yang berada di pelosok daerah masih menganggap bahwa internet, sebagai media pembelajaran PJJ, masih mahal. Namun hal ini dapat diantisipasi dengan pengadaan Internet terpusat pada daerah tersebut.

Selain itu belum adanya backbone internet di Indonesia, sehingga tari internet dan bandwith yang ada sekarang ini masih kecil dibandingkan Negara lain seperti Singapore maupun Malaysia. Apapun kendala yang ada, PJJ hadir bukan untuk menambah kendala, tetapi hadir sebagai solusi bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang layak secara merata.

Program Pendidikan Jarak Jauh/Berhasil Pada

Beberapa bentuk pendidikan jarak jauh antara lain adalah:

  • Program pendidikan mandiri
  • Program tatap muka yang diadakan di beberapa tempat pada waktu yang telah ditentukan, informasi pendidikan tetap disampaikan, dengan/tanpa interaksi dari murid.
  • Program yang tidak terikat pada jadwal pertemuan, di satu atau banyak tempat.

“Pendidikan jarak jauh didasarkan pada dasar pemikiran bahwa murid adalah pusat proses pembelajaran, bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri, dan berusaha sendiri di tempat mereka sendiri. Hal ini adalah merupakan kepemilikan dan otonomi.”*

Dan yang pasti iLearning+ bukanlah merupakan kelas jauh Namun, merupakan dari PPJ yang sesuai dengan peraturan pemerintah dan Dikti yang berlaku.

 Sumber :

Views All Time
Views All Time
154
Views Today
Views Today
1

Leave us a Comment

logged inYou must be to post a comment.